Anak Juga Bisa Hipertensi, Wajib Waspada Jika Tensi si Kecil Lampaui Angka Ini

Jakarta –

Anak-anak juga lebih rentan terkena penyakit serius. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebutkan dari 100 anak di Indonesia, sekitar 19 anak menderita penyakit ini.

Berbeda dengan tinggi badan, cara mengukur tekanan darah pada anak bergantung pada berat badan, tinggi badan, usia, dan jenis kelamin. Anggota Unit Kerja Koordinasi Nefrologi (UKK) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. Dr Heru Muryawan, SpA (K) menjelaskan tabel perhitungan tekanan darah pada anak.

Tekanan darah dinyatakan dalam satuan mmHg yang terdiri dari sistol dan diastol. Sistol adalah angka atas, sedangkan diastol adalah angka bawah.

Jika penyakit ini terus berlanjut atau tetap di atas angka-angka ini, maka penyakit ini dianggap sebagai penyakit serius:

Laki-laki 1 tahun : sistol 98, diastol 52 2 tahun : sistol 100, 55 diastol 3 tahun : 101 sistol, 58 diastol 4 tahun : 102 sistol, sistol 60 sistol 5 : 103 sistol 52 tahun 2 : sistol 100, 55 diastol 3 tahun : sistol 101, 58 diastol 4 tahun: 102 sistol, sistol 60 sistol 5: 103 sistol 52 6 tahun, 6 tahun diastol tahun: sistol 106, diastol 68 8 tahun: sistol 107, diastol 69 9 tahun: sistol 107, diastol 70 10 tahun 10: sistol 108, diastol 10 tahun 17 tahun 17 tahun 12: sistol 17 tahun 12: sistol 17 sistol 120, diastol 80

Anak perempuan 1 tahun: sistol 98, diastol 52 2 tahun: sistol 101, diastol 58 3 tahun: sistol 102, diastol 60 4 tahun: sistol 103, diastol 62 5 tahun: sistol 104 tahun, 6 tahun 7 diastol 106 sistol, 68 diastol 75 Lebih dari 13 tahun: sistol 120, diastol 80

Orang tua bisa mengukur tekanan darahnya di rumah dengan menggunakan alat biasa yaitu sphygmomanometer atau sphygmomanometer. Mereka mencoba mengukur tekanan darah tiga kali untuk mendapatkan nilai yang akurat, menempatkan alat tersebut pada dua pertiga lengan atas.

“Caranya sama dengan orang dewasa, pakai di tangan, jadi bagian yang dituang paling bagus 2/3 bagian atas tangan, kecuali memenuhi definisi yang ditentukan seperti dijelaskan di tabel. . tahun,” katanya.

KESIMPULAN: Cara sederhana mencegah penyakit serius pada anak

(lebih baik / lebih tinggi)

Nyaris 19 Persen Anak RI Kena Hipertensi, Kok Bisa? IDAI Ungkap Pemicunya

Jakarta –

Seringkali diyakini bahwa hipertensi atau tekanan darah tinggi “hanya menyerang” orang dewasa. Faktanya, 18,9 persen anak usia enam hingga 18 tahun di Indonesia menderita hipertensi.

Angka tersebut terbilang tinggi dibandingkan laporan dari banyak negara lain, seperti AS 4,2 persen, Brazil 5,5 persen, Afrika 5,5 persen. Sedangkan tren di China sedikit berbeda dengan Indonesia, yakni 18,4 persen pada anak usia enam hingga 13 tahun.

“Indonesia tergolong tinggi, kalau 100 anak berarti hampir 19 orang mengidap hipertensi,” jelas dr Geru Muryawan, SpA(K), anggota Satgas Koordinasi Nefrologi (UKK) Ikatan Dokter Anak Indonesia. (IDAI). webinar online, Selasa (2 Juni 2024).

Ia mengatakan, hipertensi terbagi menjadi dua kategori yakni primer dan sekunder. Kasus hipertensi pada anak terbanyak merupakan hipertensi sekunder.

Artinya dalam anamnesis terdapat penyakit yang menyertai tekanan darah tinggi. Dari sekian banyak kasus yang teridentifikasi, lebih dari 90 persen anak menderita hipertensi akibat penyakit ginjal.

“Kebanyakan kasus hipertensi pada anak berhubungan dengan penyakit ginjal sehingga harus banyak diwaspadai karena jika berlanjut hingga dewasa, ginjal akan terkena penyakit hingga dewasa jika tidak ditangani dengan baik,” sarannya.

Penyakit penyerta lainnya termasuk penyakit jantung dan obesitas. Orang tua sebaiknya mewaspadai hipertensi pada anak dengan memulai pemeriksaan rutin minimal setahun sekali, dimulai pada usia tiga tahun.

Geroux juga tidak menutup kemungkinan bahwa hipertensi pada anak disebabkan oleh faktor genetik, namun hal itu masih terus diteliti.

“Jika ada anggota keluarga Anda yang menderita hipertensi, biasanya anak Anda bisa atau tidak. Faktanya, anak dengan penyakit jantung bawaan akan kurang beraktivitas,” ujarnya.

BERIKUTNYA: Faktor risiko hipertensi pada anak

Tonton video “UNICEF: 700.000 anak di Sudan mungkin menderita malnutrisi akut” (naf/kna)