Arkeolog Temukan Jejak Tangan Misterius di Parit Berusia 1.000 Tahun

JERUSALEM – Sekelompok arkeolog menemukan sidik jari misterius di dinding gua berusia 1.000 tahun di Yerusalem. Penemuan ini membuat mereka bingung karena tidak mengetahui siapa yang menciptakannya dan apa maknanya.

Javez digali pada abad ke-11 untuk melindungi Yerusalem dari serangan Tentara Salib. Jejak tangan ditemukan pada bagian dinding yang terbuat dari batu kapur. Cetakannya cukup jelas dan sepertinya dibuat dengan sengaja.

Seperti dilansir Science Alert, para arkeolog tidak dapat memastikan siapa yang membuat tangan tersebut. Ada banyak kemungkinan, seperti:

Pembangun gua: Ada kemungkinan bahwa para pekerja membangun gua dengan tangan. Ini mungkin merupakan cara untuk menandai pekerjaan mereka atau suatu bentuk doa.

Wisatawan: Mungkin saja jejak kaki pengunjung setelah pembangunan. Ini mungkin cara mereka meninggalkan jejak mereka di situs bersejarah.

Simbol Keagamaan: Ada kemungkinan bahwa cetakan tangan tersebut memiliki makna keagamaan. Ada beberapa budaya yang menggunakan tulisan tangan sebagai simbol keberuntungan atau perlindungan.

Para arkeolog terus memeriksa cetakan tersebut untuk mencari tahu siapa yang membuatnya dan apa maksudnya. Kami berharap penemuan ini dapat memberikan informasi baru tentang sejarah Yerusalem.

Pilu Anak 6 Tahun Tewas di Gaza, Tim Medis Penyelamat Dibunuh Tentara Israel

Jakarta –

Seorang gadis bernama Hind Rajab (6) yang hilang di Gaza 6 bulan lalu ditemukan tewas. Ia meninggal bersama banyak kerabat dan dua petugas kesehatan yang berusaha membantunya.

Mereka tewas setelah diserang tank tentara Israel. Saat itu, Rajab sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan dari kota bersama bibi, paman, dan tiga sepupunya.

Rekaman audio panggilan antara Rajab dan operator darurat menunjukkan bahwa anak laki-laki tersebut adalah satu-satunya yang selamat dan masih hidup di dalam mobil pada saat serangan terjadi. Dia bersembunyi dari tentara Israel di antara mayat kerabatnya yang telah meninggal.

Panggilan itu akhirnya dihentikan karena tembakan.

Dokter dari Masyarakat Bulan Sabit Merah Palestina (PRCS) memasuki wilayah tersebut pada hari Sabtu, yang sebelumnya ditutup sebagai zona pertempuran aktif.

Saat mobil Rajab ditemukan di sana, kondisinya kurang baik. Kaca depan dan dashboard pecah dengan beberapa lubang peluru di dalamnya.

Dua orang dari tim penyelamat yang datang untuk menyelamatkan nyawa Rajab juga mengalami nasib malang. Israel kembali melancarkan serangan terhadap ambulans yang dibawa oleh Yusuf Al Zeino dan Ahmed Al Madhoun yang berusaha membantu Rajab. Keduanya tewas dalam serangan itu.

PRCS menuduh Israel sengaja menargetkan ambulans yang membawa Yusuf dan Ahmed ketika ambulans itu tiba pada 29 Januari.

PRCS dilansir BBC, Minggu (11/2/2024) “Israel sengaja mengincar awak Bulan Sabit Merah, meski sudah berkoordinasi terlebih dahulu agar ambulans bisa tiba untuk menyelamatkan Hind Rajab,” kata BBC. Minggu (11/2/2024).

PRCS mengatakan butuh beberapa jam untuk mengoordinasikan akses tentara Israel. Langkah ini perlu dilakukan sebelum mereka bisa mengirimkan ambulans untuk menyelamatkan Rajab.

“Kami dapat koordinasi, kami mendapat lampu hijau. Ketika kami tiba (para kru) memastikan bahwa mereka dapat melihat mobil yang ditumpangi Hind dan mereka dapat melihatnya. Hal terakhir yang kami dengar adalah tembakan terus menerus,” juru bicara PRCS Nibal. dikatakan. Fasak.

Ibu Rajab, Wissam, saat itu mengatakan bahwa dia sedang menunggu kedatangan putranya. Dia masih di rumah sakit menunggu kabar dari putrinya.

“Bagi semua orang yang mendengar suara saya dan suara putri saya, tetapi tidak membantunya, saya akan memohon di hadapan Tuhan pada hari penghakiman,” tandasnya. Tonton video “WHO berduka atas kematian tim medis yang mencoba membantu Hind Rajab” (avk/kna)