Pameran Geneva Motor Show Semakin Sepi, Ini Penyebabnya

MILAN – Dulu, Geneva Motor Show dianggap sebagai pameran mobil terbesar dan terbesar di dunia. Di sinilah model konsep diperkenalkan ke publik dan banyak pabrikan berlomba-lomba mengungkap model terbaiknya.

Seperti dilansir Autopro, Senin (29/1/2024), kini roda telah berputar dan keanehan masa lalu tidak akan terulang kembali. Untuk tahun ini, baru delapan pabrikan yang mengonfirmasi keikutsertaannya di pameran mobil bersejarah tersebut.

Pameran tahun ini rencananya digelar pada 26 Februari hingga 3 Maret, dan hanya dua perusahaan ternama di Eropa, Renault dan Dacia, yang akan berpartisipasi di dalamnya.

Bagaimana dengan perusahaan Jepang? Tidak ada seorang pun. Perusahaan peserta lainnya adalah BYD, Isuzu, Lucid, MG Motor, Microlino dan Pininfarina.

Jadi kalau ada yang jalan-jalan ke Eropa dan ingin melihat model terbaru Mercedes-Benz, BMW, Lamborghini, Ferrari, Mini di pameran ini, lupakan saja. Tidak ada Proton dan Perodua.

Jika dirunut, total ada 29 perusahaan yang ikut serta, namun selain 8 perusahaan di atas, ada pula perusahaan yang bergerak di bidang asesoris dan asesoris mobil serta tim balap.

Tidak mengherankan jika penurunan jumlah entri yang signifikan disebabkan oleh perubahan tren produsen yang memilih platform lain untuk memperkenalkan produknya. Hal ini mencakup paparan digital selain acara regional yang paling selaras dengan sasaran penjualan.

Selain pengaruh situs media sosial yang semakin populer, biaya yang mahal juga menjadi faktor utama.

Mungkin tahun ini akan menentukan pameran mobil mana yang akan diadakan di Eropa di masa depan.

Keindahan tanah bersejarah Swiss tampaknya gagal menarik lebih banyak produsen mobil untuk bergabung kali ini.

Jika ini yang terjadi, peluang kita untuk mencapainya semakin kecil.

Ikatan Arsitek Indonesia Gelar Pameran Arsitektur Terbesar di Indonesia

JAKARTA – Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) menyelenggarakan acara tahunan ARCH:ID tahun ini bekerja sama dengan PT CIS Exhibition, forum dan pameran arsitektur terbesar di Indonesia. Pameran bertajuk “Placemaking: Tolerance” ini akan digelar pada 22-25 Februari 2024 di ICE BSD City, Tangerang.

“Kegiatan ini fokus pada hubungan harmonis antara masyarakat, pembangunan perkotaan, pelestarian alam, dan integrasi teknologi,” kata Wakil Sekretaris Jenderal IAI dan Direktur Program ARCH:ID 2024 Ferman Herwanto dalam siaran pers, Selasa (6/2/2024).

Dikatakannya, tahun ini ARCH:ID mengikutsertakan arsitek ternama sebagai tim kuratornya, yaitu Ar. Yacobus Gatot S. Surarjo, IAI, Ar. Nellie Daniel, IAI, dan Ar. I Ketut Dirtara, IAI. Acara ini diharapkan tidak hanya menampilkan pameran dan konferensi kelas dunia, namun juga beragam program dan konten berkualitas untuk pertukaran pengetahuan.

“ARCH:ID 2024 mengundang para arsitek, peminat desain, pengembang, dan profesional industri untuk berpartisipasi dalam kegiatan inovatif dan berwawasan luas ini,” ujarnya.

Dijelaskannya, beberapa booth dirancang mewakili tema ‘Placemaking: Toleransi’ yang dirancang bekerja sama dengan arsitek pemegang STRA (Sertifikat Pendaftaran Arsitek). Terdapat lebih dari 300 stand pameran yang juga telah dikurasi, dan akan menghadirkan produk dan layanan inovatif dari merek lokal dan internasional produk arsitektur dan produsen bahan bangunan serta desain interior. “Ini adalah kesempatan besar untuk menemukan tren terkini dalam arsitektur dan desain,” katanya.

Menurut Furman, acara tahun ini juga akan dimeriahkan dengan pameran unggulan yang dirancang oleh arsitek muda. Menampilkan Pameran Desain Kreatif SKENA, Atap Keberagaman dari IAI Wilayah 2, IAI KOLABORNEO dari IAI Wilayah 4, penghargaan kepada Eko Prawoto dan Josef Priotomo, karya arsitek muda dari 4 negara, kompetisi BYO Living Tectonic, area diskusi Alun-Alun dan Podd. .

Selain pameran, masih banyak acara lain yang ditawarkan ARCH:ID 2024 seperti konferensi 2 hari, ARCH:ID Talk Series, Tuju-Tuju Chat dan ARCH:ID Hackathon. Akan ada lebih dari 200 pembicara ternama yang berbagi ilmu dan wawasannya.

Kegiatan tersebut dilanjutkan perusahaan dengan mencoba menciptakan ‘ruang perantara’ dalam komposisi arsitektur, ruang yang mencakup semua dan memberikan toleransi terhadap aktivitas sosial masyarakat, hingga penataan detail yang sering terlupakan dalam ruang perkotaan.

“Pameran ini diharapkan dapat menjadi tonggak sejarah pameran arsitektur di Indonesia, dan menjadi tolak ukur terciptanya ruang-ruang sementara yang sarat kualitas dan nilai produk-produk terbaik yang ditampilkan,” ujarnya.