Dorong Kesetaraan, Kokuo Reflexology Ciptakan Kesempatan Bekerja bagi Kaum Disabilitas

JAKARTA – Inklusi terus menjadi tantangan karena kurangnya masyarakat yang bisa menikmati hak yang sama, selain pekerjaan yang layak. Namun hak asasi mereka masih jarang terpenuhi. Berdasarkan data Organisasi Buruh Internasional (ILO), jumlah penyandang disabilitas di seluruh Indonesia diperkirakan mencapai 20.000 orang.

Jumlah penduduk usia kerja sebanyak 17,75 juta jiwa, namun hanya 7,8 juta jiwa yang merupakan angkatan kerja. Bahkan, pengangguran terbuka bagi penyandang disabilitas mencapai 247 orang. Di sini, selain memberikan pekerjaan yang layak kepada penyandang disabilitas, sangatlah penting untuk mendorong mereka agar dapat bekerja dan berfungsi dalam masyarakat.

Sebagai pemimpin utama di bidang pijat refleksi dan perawatan kesehatan bagi keluarga, Kokuo Reflexology melihat potensi besar dalam melatih para penyandang disabilitas, khususnya tunanetra. Didirikan pada tahun 2003, Kokuo terus menyediakan lapangan kerja, meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan berpartisipasi aktif dalam proyek komunitas yang membantu komunitas tunanetra.

“Kondisi kemiskinan dan kesenjangan sosial yang terjadi saat ini bukan lagi menjadi tanggung jawab pemerintah, namun menjadi tanggung jawab kita semua. Sebagai perusahaan yang berfokus pada pijat refleksi, Kokuo berkomitmen untuk bekerja sama dengan komunitas tunanetra dengan memberikan mereka pelatihan dan keterampilan. Dan manfaatkanlah,” kata Muhammad Nurrohim, Presiden Direktur Kokuo Reflexology.

“Kami ingin mereka terus bisa bersaing seperti orang normal pada umumnya. Oleh karena itu, kami terus mengembangkan metode pelatihan inklusif. Sejauh ini sudah ada 40 terapis tunanetra yang bergabung di Kokuo. Masa depan. Kesenjangannya semakin dekat,” lanjutnya.

Sebagai salah satu jenis disabilitas yang paling banyak ditemui di Indonesia, penyandang tunanetra mengalami kesulitan besar dalam beraktivitas sehari-hari. Namun, penglihatan mereka yang pendek juga memberi mereka keuntungan dalam hal sentuhan yang tajam. Hal ini memberikan daya tarik tersendiri bagi pelanggan.

Andrey Briago, salah satu terapis tunanetra di Gokuo Reflexology, merasakan manfaat besar dari pelatihan yang diterimanya.

“Waktu saya mengalami kecelakaan tahun 2009, mereka bilang saya tidak bisa melihat. Tentu saja saya frustasi. Lalu saya menelepon untuk ikut terapi pijat. Sekarang saya bisa bekerja di tempat yang memiliki reputasi baik seperti Kokuo Massage. Saya bisa mendapat penghasilan. A gaji yang layak.” Andre menjelaskan.